Rabu, 29 November 2017

Jurnal Kebijakan Adiwiyata



Implementasi Kebijakan Adiwiyata
Dalam Upaya Mewujudkan Pendidikan Lingkungan Hidup
di SMA Negeri 1 Tanjunganom Nganjuk
Dina Kurota A’yunin Teguh Putri
Isna Narusa’adah
Mufarrihul Hazin
STAIN Kediri, Indonesia
Abstrak : Dua hal yang sangat fundamental dalam dunia pendidikan adalah implementasi kurikulum dan lingkungan sekolah. Namun, disebabkan banyaknya bencana yang terjadi, maka perlu peninjauan ulang mengenai bagaimana Pendidikan Lingkungan Hidup yang ada di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan implementasi kebijakan Adiwiyata di sekolah SMAN 1 Tanjunganom yang menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, dan Saldana yaitu kondensasi data, display data, penarikan kesimpulan. Keabsahan data yang menggunakan uji kredibilitas, transferability, dependability, dan confirmability.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SMAN 1 Tanjunganom telah mengimplementasikan kebijakan Adiwiyata dengan baik bahkan menjadi Adiwiyata mandiri. Hal ini dipengaruhi oleh komunikasi yang efektif, melalui sosialisasi, rapat guru, kegiatan upacara hari Senin, dan peran mading. Sumber daya yang memadai baik berupa finansial, sarana prasarana, dan media informasi. Disposisi atau kecenderungan dalam pelaksanaan kebijakan yang meliputi pemahaman, respon yang positif, komitmen warga sekolah, dan keteladanan. Kemudian adanya struktur birokrasi yang mendukung, berupa SOP yang dapat ditemukan di setiap sudut sekolah, pembagian tugas (fragmentasi), dan koordinasi yang berkelanjutan.
Kata kunci: Kebijakan Adiwiyata dan lingkungan hidup


A.    Pendahuluan
       Menurut Tim MKU PLH (2014),  Pendidikan lingkungan hidup merupakan upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya peletarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi yang akan datang.
       Namun, masyarakat seringkali lalai akan perannya dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan tersebut. Sikap penduduk yang masih membuang sampah sembarangan, banyaknya penggunaan kendaraan bermotor yang menyebabkan polusi udara di kota-kota besar, penebangan liar, dan masih banyak penyimpangan perilaku manusia yang dapat menurunkan kualitas lingkungan sehingga menyebabkan perubahan lingkungan yang semakin cepat terjadi, berbagai bencana datang silih berganti, sungguh merupakan fenomena yang menyentak pemikiran kita. Beberapa musibah bencana disebabkan oleh penurunan kualitas lingkungan, menjadikan kita berpikir ke belakang dan menghubungkan kejadian tersebut dengan proses pendidikan yang diterapkan.
       Maka, Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) haruslah ditanamkan kepada anak sejak dini. Salah satu cara untuk mewujudkan generasi yang sadar akan lingkungan adalah dengan menerapkan Kebijakan Adiwiyata di sekolah-sekolah yang di dalamnya tidak hanya mencangkup tentang pelestarian lingkungan saja melainkan juga memberikan pendidikan karakter untuk anak.
B.     Kajian Teori
       Dalam penelitian ini peneliti berpijak pada kebijakan Pendidikan Lingkungan Hidup antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional No. 02 tahun 2009 tentang pelaksanaan kebijakan Adiwiyata. Sebuah kesepakatan yang diputuskan berdasarkan beberapa pertimbangan penting, yaitu: untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran, kerusakan lingkungan hidup, untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan memerlukan sumber daya manusia yang sadar dan mampu memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan bahwa pengetahuan, nilai, sikap, perilaku, dan wawasan mengenai lingkungan hidup perlu diberikan sejak dini kepada seluruh lapisan masyarakat dan peserta didik pada semua satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan. (Permen LH, 2009)
       Adiwiyata mempunyai pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan. Adiwiyata merupakan sebuah kebijakan yang bertujuan untuk menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, untuk mendorong upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan yang pada akhirnya dapat mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan berdasarkan norma kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam. (Tim Adiwiyata Tingkat Nasional, 2011)
       Tujuan program Adiwiyata adalah mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Menurut Sondang (1985), ada beberapa indikator yang menjadi penunjang keefektifan program Adiwiyata, antara lain:
a.    Pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan
b.    Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan
c.    Pengembangan kegiatan berbasis partisipatif
d.   Pengembangan dan atau pengelolaan sarana pendukung sekolah
Pelaksanaan program Adiwiyata diletakkan pada dua prinsip dasar berikut ini:
a.    Partisipatif
       Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
b.    Berkelanjutan
       Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus menerus secara komprehensif. (Tim Adiwiyata Tingkat Nasional, 2011)
Untuk mencapai tujuan program Adiwiyata, maka ditetapkan empat komponen program yang menjadi satu kesatuan utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata. Keempat komponen tersebut adalah:
a.       Kebijakan berwawasan lingkungan
b.        Pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan
c.       Kegiatan lingkungan berbasis partisipatif
d.      Pengembangan sarana prasarana yang ramah lingkungan (Tim Adiwiyata Tingkat Nasional, 2011)
Menurut Nurjhani dan Widodo (2009) pendidikan lingkungan dibutuhkan dan harus diberikan kepada anak sejak dini agar mereka mengerti dan tidak merusak lingkungan. Hal ini dipengaruhi beberapa aspek, antara lain:
a.         Aspek kognitif, pendidikan lingkungan hidup mempunyai fungsi untuk meningkatkan pemahaman terhadap permasalahan lingkungan, juga mampu meningkatkan daya ingat, penerapan, analisis, dan evaluasi.
b.        Aspek afektif, pendidikan lingkungan hidup berfungsi meningkatkan penerimaan, penilaian, pengorganisasian, dan karakteristik kepribadian dalam menata kehidupan terkait dengan keselarasan dengan alam.
c.         Aspek psikomotorik, pendidikan lingkungan hidup berperan dalam meniru, memanipulasi dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya dalam upaya meningkatkan budaya mencintai lingkungan.
d.        Aspek minat, pendidikan lingkungan hidup berfungsi meningkatkan minat dalam diri anak.
C.    Metode Penelitian
       Jika dilihat dari segi bidang yang diteliti, penelitian ini adalah penelitian sosial, yaitu penelitian yang secara khusus meneliti bidang sosial seperti ekonomi, pendidikan, hukum dan sebagainya, (Hasan, 2016). Penelitian  ini merupakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Sugiyono, 2016), karena dalam penelitian ini  akan  melihat  implementasi  dalam  pelaksanaan  kebijakan  Adiwiyata  dalam  upaya  mewujudkan pendidikan  lingkungan  hijau  pada  jenjang Sekolah Menengah  Atas  (SMA)  di Kabupaten Nganjuk.  Penelitian  ini berusaha mendeskripsikan atau melukiskan secara terperinci atau mendalam upaya apa saja yang telah dilakukan  oleh  pihak  sekolah,  faktor  pendukung  apa  saja  yang menyebabkan  berjalannya  program Adiwiyata  di  sekolah,  kendala-kendala  apa  saja  yang  ditemui  dalam  rangka  implementasinya,  serta menemukan bentuk solusi bagi keberhasilan program Adiwiyata di sekolah di Kabupaten Nganjuk.
       Penelitian  ini  mengambil  lokasi  di Kabupaten Nganjuk dengan  melihat  implementasi  kebijakan Adiwiyata  yang  ada  pada SMA Negeri  1 Tanjunganom. Penentuan lokasi penelitian ini dimaksudkan untuk lebih mempersempit ruang lingkup dalam pembahasan sekaligus untuk mempertajam fenomena sosial yang ingin dikaji sesuai permasalahannya. Teknik pengambilan  data  dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam wawancara penelitian melibatkan kepala sekolah, guru, staf karyawan, dan peserta didik. Dokumentasi dilakukan dengan menganalisis dokumen-dokumen yang ada di sekolah tersebut, seperti piagam penghargaan, foto-foto kegiatan, dan sebagainya.
       Teknik analisis data yang digunakan adalah model analisis data Miles, Huberman, dan Saldana (2014) yang meliputi proses kondensasi data, display data (penyajian data), dan conclusion (penarikan kesimpulan). Kondensasi data berarti melakukan penggabungan dan penguatan data. Selanjutnya setelah data dikondensasikan, data disajikan dalam bentuk uraian singkat, bagan, foto, dan sejenisnya. Kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi hasil penelitian.
       Uji kesahihan atau keabsahan data yang digunakan meliputi uji kredibilitas (melalui triangulasi sumber, diskusi teman sejawat, dan teknik pengumpulan data), uji transferability (melalui penyusunan hasil penelitian dengan rinci, jelas, dan sistematis), uji dependability (melalui pemeriksaan keseluruhan proses penelitian), serta uji confirmability (melalui publikasi hasil penelitian).

D.    Hasil dan Pembahasan
       Hasil penelitian yang dipaparkan merupakan hasil dari analisis dan validasi serta sudah merupakan hasil proses kondensasi dari sekolah yang menjadi objek penelitian. Hasil penelitian terbagi atas dua bagian. Bagian pertama terkait kebijakan Adiwiyata yang ada pada objek penelitian ini, sedangkan bagian kedua terkait implementasi kebijakan Adiwiyata di sekolah tersebut. Kedua bagian itu akan dijelaskan sebagai berikut.
1.    Kebijakan Adiwiata di SMA Negeri 1 Tanjunganom
       Pelaksanaan untuk pewujudan Sekolah Adiwiyata, SMA Negeri 1 Tanjunganom memiliki Motto, Visi dan Misi sebagai berikut:
Motto: Bersih, Indah, Hijau Lingkunganku, Nyaman Belajarku, dan Sehat Jiwa Ragaku.
Visi: Beriman dan Bertaqwa, berkepribadian luhur, berprestasi, terampil, serta berwawasan lingkungan.
Misi:
a.              Menumbuhkan pemahaman, penghargaan, penghayatan, dan pengamatan terhadap agama yang dianutnya.
b.             Menciptakan siswa yang berperilaku santun, rendah hati, dan berkepribadian luhur.
c.              Meningkatkan profesionalitas guru sehingga mampu menciptakan proses pembelajaran yang bermutu.
d.             Membantu mengembangkan potensi siswa sehingga menghasilkan siswa yang berprestasi.
e.              Mencetak siswa yang terampil menggunakan TIK.
f.              Menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, indah, dan nyaman.
g.             Terwujudnya budaya peduli dan cinta lingkungan alam.
h.             Terciptanya warga sekolah dan peserta didik yang membuang sampah pada tempatnya.
i.               Terciptanya gerakan penghijauan di sekolah maupun di lingkungan sekitar.
j.               Terwujudnya pengolahan sampah daun menjadi kompos dan bahan yang berguna bagi kebutuhan warga sekolah maupun warga masyarakat.
k.             Terciptanya lingkungan yang bebas dari pencemaran udara, tanah, dan air.
l.               Terwujudnya pelaksanaan pengelolaan, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup.
Berdasar pada visi dan misi sekolah, yaitu Beriman dan Bertakwa, berkepribadian luhur, berprestasi, terampil, serta berwawasan lingkungan sekolah berharap siswa-siswa SMA Negeri 1 Tanjunganom tidak hanya memiliki prestasi secara akademik saja, namun juga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berkepribadian luhur, serta berwawasan lingkungan dengan menunjukkan kepeduliannya terrhadap lingkungan sekitar baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitarnya.
SMA Negeri 1 Tanjunganom juga senantiasa memperingati hari-hari peringatan lingkungan, di antaranya: Hari Lahan Bersih Se-Dunia (2 Februari), Hari Peduli Sampah (21 Februari), Hari Kehutanan Sedunia (20 Maret), Hari Air Sedunia (22 Maret), Hari Bumi (22 April), dan lain sebagainya. Dalam rangka memperingati hari peringatan lingkungan, SMA Negeri 1 Tanjunganom memperingati dengan kegiatan Senin Bersih, Apotek Sehat, dan lain sebagainya meski itu tidak hanya dilakukan pada hari-hari tertentu itu saja. Siswa juga dibiasakan untuk memperhatikan kebersihan, menjaga sikap anak ke lingkungan, membiasakan anak untuk berperilaku sopan santun, jika masuk di lingkungan sekolah mesin motor harus dimatikan, dan tidak diperkenankan merokok di area sekolah.
SMA Negeri 1 Tanjunganom juga bekerjsama dengan berbagai pihak yang terkait. Antara lain Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Warga Sekitar, dan mitra kerja yang lain. Tidak lupa sekolah juga bekerja sama dengan seluruh warga SMA Negeri 1 Tanjunganom.
SMA Negeri 1 Tanjunganom juga telah mengikuti beberapa perlombaan Lingkungan Hidup. Berikut prestasi-prestasi yang telah berhasil didapatkan SMA Negeri  Tanjunganom: Juara 1 Lomba Adiwiyata tingkat Kabupaten, Juara 2 Lomba Adiwiyata tingakat Provinsi, Juara 3 Lomba Adiwiyata tingkat Nasional, Juara harapan 1 Lomba Adiwiyata Mandiri, dan Juara 1 Lomba Lingkungan Sehat.
Menurut Pak Darminto, narasumber yang peneliti wawancarai, salah satu syarat untuk menuju sekolah Adiwiyata Mandiri adalah SMA Negeri 1 Tanjunganom harus memiliki sekolah Imbas, dan harus mengimbaskan ke 10 sekolah tersebut agar dapat mengikuti seleksi sekolah Adiwiyata secara bertahap, mulai Adiwiyata tingkat Kota, Adiwiyata tingkat Provinsi, dan Adiwiyata Nasional. 10 sekolah timbas tersebut adalah SDN Tanjunganom 1, SMPN 1 Nganjuk, MAN Nglawak Kertososno, SMAN 2 Ngetos, SMAN 3 Ngetos, SMAN 1 Loceret, SMAN 1 Gondang, SMKN 1 Nganjuk, SMKN 1 Bagor, dan SMKN 2 Bagor.

2.    Implementasi Kebijakan Adiwiyata di SMAN 1 Tanjunganom
Menurut teori George C. Edward  III, Implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yakni komunikasi, sumberdaya, disposisi, dan struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling berhubungan satu sama lain (Subarsono, 2005) akan diperinci sebagai berikut.
a.         Komunikasi
Keberhasilan suatu implementasi kebijakan dapat ditentukan dari seberapa besar informasi yang dapat disalurkan pembuat kebijakan terhadap pelaksana kebijakan. Menurut Edwards (1980) informasi kebijakan pendidikan perlu disampaikan kepada pelaku kebijakan agar pelaku kebijakan dapat mengetahui dan memahami apa yang menjadi isi, dan arah kebijakan, sehingga tujuan dan sasaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan secara jelas dan konsisten. Komunikasi mencangkup tiga hal, yaitu tranmisi (penyampaian), kejelasan, dan konsistensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Tanjungnaom telah mengomunikasikan kegiatan dengan baik dan efektif, hal ini terlihat dari bagaimana proses penyampaian informasi melalui sosialisasi, rapat guru, upacara hari Senin, melalui KBM, dan peran mading. Informasi yang disampaikan juga jelas dan konsisten. Hal-hal yang disampaikan pun beragam, mulai dari himbauan, peraturan sekolah yang baru yang mendukung kebijakan Adiwiyata, teguran, pergantian pokja, prestasi-prestasi sekolah, dan hal-hal yang menyangkut kebijakan Adiwiyata lainnya. Dalam hal ini peran mading dan poster sangatlah dominan. Karena, warga sekolah terutama para siswa seringkali lupa akan apa yang telah disosialisasikan guru dalam upacara hari Senin maupun dalam KBM. Jadi, dibuatlah tulisan-tulisan yang berisi peraturan-peraturan baru dan himbauan yang kemudian ditempelkan di mading-mading dan dicetak dalam poster-poster yang dapat ditemui di setiap sudut sekolah, dengan harapan agar warga sekolah dapat membaca dan menerapkannya di manapun mereka berada (di lingkungan sekolah) dengan baik.
Sekolah juga mengimbaskan komponen-komponen dan program-program kebijakan Adiwiyata kepada 10 sekolah imbas yang telah disebutkan tadi secara jelas dan kontinu. Hal-hal yang diimbaskan meliputi komponen-komponen kebijakan RKAS, visi, misi, dan tujuan sekolah yang terkait dengan struktur kurikulum, pengembangan kurikulum terutama pembelajaran yang mengintegrasikan lingkungan hidup  yang terkait dengan tenaga pendidik, kegiatan lingkungan yang berbasis partisipatif, kegiatan kemitraan dengan lingkungan sekitar masyarakat dan lain sebagainya.
Hal ini sesuai  dengan pernyataan Agustino (2006) komunikasi merupakan salah-satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi kebijakan publik. Komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan dari implementasi kebijakan publik.
b.        Sumber Daya
     Adanya sumber daya yang memadai juga sangat berpengaruh terhadap sukses tidaknya suatu pengimplementasian kebijakan, karena tanpa adanya sumber daya maka apa yang telah direncanakan tidak akan sesuai dengan apa yang akhirnya diterapkan.
     Menurut Edward III  sumber daya (resources) yang dimaksud dalam implementasi kebijakan adalah pelaksana kebijakan, meliputi kesiapan sumberdaya, baik dalam segi kuantitas maupun kualitas, ketersediaan informasi, dan tersedianya sarana prasarana penunjang terlaksananya kebijakan.
     Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya di SMA Negeri 1 Tanjunganom telah terpenuhi, baik dari segi finansial, sarana prasarana, serta media informasi. Dari segi finansial, SMAN 1 Tanjunganom menggunakan dana yang ada, sehingga tidak ditemukan masalah dari segi dana. Adapun sumber dana untuk pelaksanaan kebijakan ini, ada yang berasal dari pemerintah tentunya, dari warga sekitar yang juga peduli lingkungan, dari wali murid yang antusias, dan tidak lupa dari para guru dan staf karyawan juga. Semua dana dari berbagai pihak tersebut dikelola dengan baik oleh sekolah, sehingga sekolah tidak mengalami kekurangan dana dalam pengimplementasian kebijakan ini.
     Sarana prasarana di SMAN 1 Tanjunganom ini pun juga memadai. Mulai dari komposter, wash tafle, biopori, selang air, gembor air,  (penyiram tanaman), gunting rumput manual, mesin pemotong rumput, sekop untuk menanam pohon, kebun yang luas yang digunakan untuk menanam tanaman-tanaman obat seperti kunyit, jahe, kencur, temulawak, yang tumbuh dengan baik sehingga dapat dijual dan dananya bisa dipakai untuk menambah sumber daya finansial serta dapat dikonsumsi oleh semua warga sekolah, green house, cangkul, kolam ikan, pot tanaman, berbagai alat kebersihan (sapu, kemoceng, alat pel, pembersih kaca, sabun, semprotan, sikat wc, timba, dll.), tempat sampah yang terdiri dari sampah organik dan anorganik, sekolah juga menyediakan terompah yang digunakan untuk ke kamar mandi agar tidak terlalu kotor.
     Selain sarana prasarana yang memadai, SMA Negeri 1 Tanjunganom juga memiliki media informasi yang memadai. Media informasi di sekolah ini meliputi majalah dinding (mading), buletin sekolah yang disusun oleh siswa SMAN 1 Tanjunganom sendiri yang diberi nama “Justice”, poster-poster yang tertempel di dinding-dinding sekolah yang menginformasikan setiap kegiatan sekolah dan kebijakan sekolah, serta sosial media (facebook, blog, whatsapp, instagram) yang terus dipantau dalam setiap penyebaran informanya.
     Hal ini sesuai dengan pendapat Edward III dalam Juliartha (2009), sumber daya adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber daya, kebijakan hanya tinggal di kertas dan menjadi dokumen saja.


c.         Disposisi (kecenderungan)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan dan sikap para pelaku dalam implementasi Kebijakan Adiwiyata  di SMA Negeri 1 Tanjunganom dapat dilihat dari bagaiamana pemahaman warga sekolah terhadap kebijakan Adiwiyata. Dari beberapa warga sekolah yang peneliti wawancarai, mereka dapat menjelaskan kepada peneliti bagaimana Kebijakan Adiwiyata itu diaksanakan, mereka dapat menjelaskan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di Sekolah Adiwiyata, seperti membuang sampah sembarangan, merokok, boros energi, dan lain-lain. Mereka juga dapat menjelaskan visi dan misi sekolah yang berkaitan dengan Adiwiyata dengan baik, mereka juga mengetahui apa saja komponen-komponen Adiwiyata, prinsip-prinsipnya pun mereka juga memahaminya.     Dalam pengimplementasian Kebijakan Adiwiyata, respon yang positif dari pelaku kebijakan juga sangat diperlukan. Respon dari pelaku kebijakan dalam sekolah ini terlihat dari bagaimana mereka menunjukkan kepahaman mereka terhadap kebijakan ini dengan melaksanakan apa yang mereka katakan dan mereka pahami, seperti mereka membuang sampah di tempatnya, tidak merokok di lingkungan sekolah, mematikan kendaraan bermotor apabila sudah masuk area sekolah, hemat energi dengan mematikan lampu apabila sudah tidak diperlukan, mematikan keran air apabila bak mandi sudah penuh, mengadakan kantin sehat yang jajanan di dalamnya terhindar dari 5P (pemanis, perasa, pengenyal, pewarna, dan penyedap), mereka juga membuat kebijakan sekolah yang tidak mengizinkan penjual di kantin membungkus makanannya dengan bahan plastik. Di sekolah ini juga ditemukan adanya kebun apotek hidup di halaman belakang sekolah yang merupakan hasil dari kerja keras semua anggota sekolah. Mereka juga membiasakan budaya 5S (Senyum, Sopan, Santun, Sapa, Salam) yang mencerminkan bagaimana karakter warga sekolahnya.
Setelah menunjukkan respon yang baik, pelaku Kebijakan Adiwiyata juga harus menunjukkan komitmennya dalam menjalani semua rangkaian kegiatan yang peduli lingkungan. Di SMAN 1 Tanjunganom, komitmen pelakunya terlihat dari bagaimana mereka menjalani setiap program Adiwiyata dengan penuh tanggungjawab, mereka tidak melaksanakan semua kegiatan karena takut akan mendapat sanksi, namun mereka lakukan dengan sepenuh hati dan tanpa paksaan.
Dalam pengimplementasian Kebijakan Adiwiyata di SMAN 1 Tanjunganom, keteladanan warga sekolah juga sangat terlihat. Keteladanan ini tidak hanya terlihat dari seorang guru saja, melainkan juga terlihat dari siswa serta semua staf karyawannya. Guru-guru dan staf karyawan saling memberi contoh yang baik kepada rekan-rekannya. Begitu juga siswa-siswanya, mereka juga saling mengingatkan dan saling bahu membahu dalam menjaga kebersihan dan menciptakan budaya cinta lingkungan.
Menurut Edward III (1980), the dispositions or attiudes of implementation is the third critical factor in our approach to the study of public policy implementation. Jika ingin efektif, maka para pelaksana tidak hanya harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, dimana kualitas dari suatu kebijakan dipengaruhi oleh ciri-ciri dari aktor pelaksananya.
d.        Struktur Birokrasi
Jika para pelaksana kebijakan sudah mengetahui dan memahami arah dan tujuan kebijakan melalui komunikasi yang efektif, telah terpenuhi sumberdayanya, dan telah menunjukkan sikap, komitmen, respon, dan tanggungjawabnya, maka yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah struktur birokrasi.
Struktur birokrasi juga merupakan faktor penting dalam berhasilnya suatu implementasi kebijakan, karena tanpa adanya birokrasi yang mendukung maka kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif. Yang paling menonjol dalam struktur birokrasi adalah diperlukan adanya SOP (Standart Operarional Prosedur), kemudian adanya fragmentasi atau pembagian tugas dan wewenang yang jelas, serta adanya koordinasi yang dilakukan secara berkesinambungan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur birokrasi di SMA Negeri 1 Tanjunganom telah berjalan sebagaimana mestinya. Di SMA Negeri 1 Tanjunganom dapat ditemukan SOP di setiap sudut sekolah, seperti SOP di kamar mandi yang menerapkan SPS (siram pipis siram), di atas wash tafle juga ada prosedur dalam mencuci tangan (nyalakan keran, cuci tangan, pakailah sabun, bilas, matikan keran, keringkan tangan), ketika membuang sampah juga ada SOP yang unik yang ditempel di atas tempat sampah seperti buka mulutku, beri makan aku, dan tutup kembali, saat di kelas pun peneliti juga menemui SOP di setiap sudut ruangan kelas, seperti di kipas angin (tarik, pakai, tarik lagi), di saklar lampu (pencet, gunakan, pencet), peneliti juga menemukan SOP di atas tempat alat kebersihan, SOP yang peneliti temui di sini pun juga unik seperti, ambil aku, gunakan aku, pulangkan aku. Demikian SOP yang ada di SMA Negeri 1 Tanjunganom yang telah peneliti temui yang mewajibkan seluruh warga sekolah untuk melaksanakan prosedur tersebut ketika berada di sekolah.
 Kemudian adanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas kepada penanggung jawab unit masing-masing. Di sekolah ini dibentuk pokja-pokja  (kelompok kerja) yang bekerja dalam unit-unit yang telah dibagi, seperti pokja green house yang bertanggung jawab untuk segala kegiatan yang ada di green house, seperti menjaga tanaman yang ada di dalamnya, menyirami tanaman, dan lain-lain. Di sekolah ini kita juga dapat menemui kamar mandi di empat tempat yang masing-masing juga dibentuk pokja yang bertugas menjaga kebersihan, mengumpulkan sampah yang ada di dalamnya, membersihkan pasir yang ada di parit, menata terompah yang berserakan, dan hal lain yang terkait dengan kebersihan kamar mandi. Di sisi lain peneliti juga menemukan pokja biopori, yang bertugas membersihkan biopori yang tersumbat sampah. Pokja apotek hidup yang bertugas menanam tanaman obat, merawat, memanen dan mendistribusikan tanaman tersebut. Pokja komposter, yang bertugas memproses sampah menjadi pupuk kompos, dan membersihkannnya. Setiap pokja-pokja tadi terdiri dari tiga sampai empat orang siswa yang bekerja. Jadi kebersihan lingkungan sekolah tidak hanya dibebankan kepada tukang kebun saja, melainkan merupakan tanggungjawab semua warga sekolah. Peneliti juga menemukan taman-taman di depan setiap ruangan kelas yang menjadi tanggungjawab anggota kelas masing-masing.
Selanjutnya adanya koordinasi yang berkesinambungan antara penanggungjawab setiap unit dengan anggotanya. Jadi, setiap ketua dari pokja-pokja tadi harus dapat mengkondisikan dan mengkoordinasi anggotanya. Hal ini terlihat dari bagaimana ketua masing-masing dari pokja tersebut membuat jadwal piket bekerja, memantau setiap kinerja anggotanya, menegur anggotanya yang tidak melaksanakan piket yang bertujuan agar setiap anggota memiliki tanggungjawab dan dapat bekerja dengan baik. Setiap pokja juga tidak selalu bekerja di unit itu saja, melainkan dilakukan secara bergilir setiap bulannya. Misal, bulan Januari kelompok A mendapat bagian pokja green house, bulan Februari bergilir menjadi anggota pokja komposter, dan seterusnya.
Hal ini sesuai dengan ungkapan Edward III (1980), bahwa meskipun sumber-sumber untuk melaksanakan suatu kebijakan tersedia atau para pelaksana mengetahui apa yang seharusnya dilakukan dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan kebijakab tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi karena terapatnya kelemahan dalam struktur birokrasi.
Untuk hambatan yang dialami SMA Negeri 1 Tanjunganom selama ini hanya pada masalah pembiasaan terhadap siswa-siswa untuk mengaplikasikan budaya lingkungan hidup dan hal tersebut dapat diatasi dengan strategi menggalakkan kegiatan-kegiatan yang mendukung budaya cinta lingkungan seperti budaya Senin Bersih, memburu sampah sebelum pelajaran dimulai, membuat lubang resapan, dan lain sebagainya. Sekolah ini juga akan memberi sanksi kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah yang lain misalnya terlambat berangkat sekolah dengan sanksi kegiatan yang berwawasan lingkungan pula, seperti mencabut rumput, membersihkan selokan, dan lain sebagainya.
E.  Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan Adiwiyata pada SMA Negeri 1 Tanjunganom telah dicantumkan dalam visi dan misi sekolah yang mengintegrasiakan lingkungan hidup dan budaya cinta lingkungan. Sekolah ini juga senantiasa memperingati hari-hari peringatan lingkungan. Sekolah juga bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Antara lain Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, warga sekitar dan mitra kerja yang lain. SMA Negeri 1 Tanunganom juga mengimbaskan komponen-komponen dan prinsip-prinsip kebijakan Adiwiyata kepada 10 sekolah. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa SMAN 1 Tanjunganom telah mengimplementasikan kebijakan Adiwiyata dengan baik bahkan menjadi Adiwiyata mandiri. Hal ini dipengaruhi oleh komunikasi yang efektif, sumber daya yang memadai, disposisi atau kecenderungan dalam pelaksanaan kebijakan, kemudian adanya struktur birokrasi yang mendukung. Hambatan yang dialami SMA Negeri 1 Tanjunganom adalah mebiasakan budaya cinta lingkungan kepada siswa-siswa SMA Negeri 1 Tanjunganom yang dapat diatasi dengan menggalakkan kegiatan-kegiatan yang mendukung budaya Adiwiyata di lingkungan sekolah dan adanya sanksi yang mendidik.

Rujukan
Agustino, Leo. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta. 2006.
Edward III, George C. Implementing Public Policy-Edwards III. Washington D.C: Congressional Quarterly, Inc. 1980.
Hasan, Iqbal. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.
Juliartha, Edward. Model Implementasi Kebijakan Publik. Jakarta: Trio Rimba Persada. 2009.
Miles, Metthew B, A.  Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook. Third Edition. United States of America : Sage Publications, Inc. 2014.
Nurjhani, M  dan Widodo, A.  Penggunaan Multimedia Untuk Meningkatkan  Penguasaan Konsep Mahasiswa dalam Perkuliahan “Konsep Dasar IPA”, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. FIP: Tidak Diterbitkan. 2009. 
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2009 Tentang  Pedoman Pelaksanaan program Adiwiyata Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Sondang, P.Wawasan Lingkungan (Dasar-dasar Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan lingkungan). Sidoarjo: Media Ilmu. 1985.
Subarsono, AG. Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. 2016.
Tim Adiwiyata Tingkat Nasional. Panduan Adiwiyata Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan. Jakarta: 2011.
Tim MKU PLH. Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang: UNS. 2014.