Implementasi
Kebijakan Adiwiyata
Dalam
Upaya Mewujudkan Pendidikan Lingkungan Hidup
di
SMA Negeri 1 Tanjunganom Nganjuk
Dina
Kurota A’yunin Teguh Putri
Isna
Narusa’adah
Mufarrihul
Hazin
STAIN
Kediri, Indonesia
Abstrak
: Dua hal yang sangat fundamental dalam dunia pendidikan
adalah implementasi kurikulum dan lingkungan sekolah. Namun, disebabkan
banyaknya bencana yang terjadi, maka perlu peninjauan ulang mengenai bagaimana
Pendidikan Lingkungan Hidup yang ada di sekolah. Penelitian ini bertujuan
untuk memaparkan implementasi kebijakan Adiwiyata di sekolah SMAN 1 Tanjunganom yang menggunakan
metode kualitatif yang bersifat deskriptif dengan jenis studi kasus. Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi,
dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini
menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, dan
Saldana yaitu kondensasi data, display data, penarikan kesimpulan. Keabsahan data yang menggunakan uji kredibilitas, transferability, dependability, dan confirmability.
Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa SMAN 1 Tanjunganom telah mengimplementasikan kebijakan
Adiwiyata dengan baik bahkan menjadi Adiwiyata mandiri. Hal ini dipengaruhi
oleh komunikasi yang efektif, melalui sosialisasi, rapat guru, kegiatan upacara
hari Senin, dan peran mading. Sumber daya yang memadai baik berupa finansial,
sarana prasarana, dan media informasi. Disposisi atau kecenderungan dalam
pelaksanaan kebijakan yang meliputi pemahaman, respon yang positif, komitmen
warga sekolah, dan keteladanan. Kemudian adanya struktur birokrasi yang
mendukung, berupa SOP yang dapat ditemukan di setiap sudut sekolah, pembagian
tugas (fragmentasi), dan koordinasi yang berkelanjutan.
Kata
kunci: Kebijakan
Adiwiyata dan lingkungan hidup
A.
Pendahuluan
Menurut
Tim MKU PLH (2014), Pendidikan
lingkungan hidup merupakan upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan
oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai
lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat
menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya peletarian dan
keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi yang akan datang.
Namun, masyarakat seringkali lalai akan perannya
dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan tersebut. Sikap penduduk
yang masih membuang sampah sembarangan, banyaknya penggunaan kendaraan bermotor
yang menyebabkan polusi udara di kota-kota besar, penebangan liar, dan masih
banyak penyimpangan perilaku manusia yang dapat menurunkan kualitas lingkungan
sehingga menyebabkan perubahan lingkungan yang semakin cepat terjadi, berbagai
bencana datang silih berganti, sungguh merupakan fenomena yang menyentak
pemikiran kita. Beberapa musibah bencana disebabkan oleh penurunan kualitas
lingkungan, menjadikan kita berpikir ke belakang dan menghubungkan kejadian
tersebut dengan proses pendidikan yang diterapkan.
Maka, Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)
haruslah ditanamkan kepada anak sejak dini. Salah satu cara untuk mewujudkan
generasi yang sadar akan lingkungan adalah dengan menerapkan Kebijakan Adiwiyata
di sekolah-sekolah yang di dalamnya tidak hanya mencangkup tentang pelestarian
lingkungan saja melainkan juga memberikan pendidikan karakter untuk anak.
B. Kajian
Teori
Dalam penelitian ini peneliti
berpijak pada kebijakan Pendidikan Lingkungan Hidup antara Menteri Negara
Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional No. 02 tahun 2009 tentang
pelaksanaan kebijakan Adiwiyata. Sebuah kesepakatan yang diputuskan berdasarkan
beberapa pertimbangan penting, yaitu: untuk melestarikan fungsi lingkungan
hidup dan mencegah terjadinya pencemaran, kerusakan lingkungan hidup, untuk
melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan memerlukan sumber daya manusia yang
sadar dan mampu memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan bahwa
pengetahuan, nilai, sikap, perilaku, dan wawasan mengenai lingkungan hidup
perlu diberikan sejak dini kepada seluruh lapisan masyarakat dan peserta didik
pada semua satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan. (Permen LH, 2009)
Adiwiyata mempunyai
pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal dimana dapat diperoleh
segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar
manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju kepada cita-cita
pembangunan berkelanjutan. Adiwiyata merupakan sebuah kebijakan yang bertujuan
untuk menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat
pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, untuk mendorong upaya-upaya
penyelamatan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan yang pada akhirnya
dapat mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan
berdasarkan norma kebersamaan, keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan
kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam. (Tim Adiwiyata Tingkat
Nasional, 2011)
Tujuan program Adiwiyata
adalah mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk
mendukung pembangunan berkelanjutan. Menurut Sondang (1985), ada beberapa
indikator yang menjadi penunjang keefektifan program Adiwiyata, antara lain:
a.
Pengembangan
kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan
b.
Pengembangan
kurikulum berbasis lingkungan
c.
Pengembangan
kegiatan berbasis partisipatif
d.
Pengembangan
dan atau pengelolaan sarana pendukung sekolah
Pelaksanaan program Adiwiyata diletakkan pada dua prinsip dasar berikut
ini:
a.
Partisipatif
Komunitas sekolah terlibat dalam
manajemen sekolah yang meliputi keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi sesuai tanggungjawab dan peran.
b.
Berkelanjutan
Seluruh kegiatan harus dilakukan secara
terencana dan terus menerus secara komprehensif. (Tim Adiwiyata Tingkat
Nasional, 2011)
Untuk mencapai tujuan program Adiwiyata, maka ditetapkan empat komponen
program yang menjadi satu kesatuan utuh dalam mencapai sekolah Adiwiyata.
Keempat komponen tersebut adalah:
a.
Kebijakan
berwawasan lingkungan
b.
Pelaksanaan
kurikulum berbasis lingkungan
c.
Kegiatan
lingkungan berbasis partisipatif
d.
Pengembangan
sarana prasarana yang ramah lingkungan (Tim Adiwiyata Tingkat Nasional, 2011)
Menurut Nurjhani dan Widodo (2009) pendidikan lingkungan dibutuhkan dan
harus diberikan kepada anak sejak dini agar mereka mengerti dan tidak merusak
lingkungan. Hal ini dipengaruhi beberapa aspek, antara lain:
a.
Aspek
kognitif, pendidikan lingkungan hidup mempunyai fungsi untuk meningkatkan
pemahaman terhadap permasalahan lingkungan, juga mampu meningkatkan daya ingat,
penerapan, analisis, dan evaluasi.
b.
Aspek
afektif, pendidikan lingkungan hidup berfungsi meningkatkan penerimaan,
penilaian, pengorganisasian, dan karakteristik kepribadian dalam menata
kehidupan terkait dengan keselarasan dengan alam.
c.
Aspek
psikomotorik, pendidikan lingkungan hidup berperan dalam meniru, memanipulasi
dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya dalam upaya meningkatkan
budaya mencintai lingkungan.
d.
Aspek
minat, pendidikan lingkungan hidup berfungsi meningkatkan minat dalam diri
anak.
C.
Metode
Penelitian
Jika dilihat dari segi bidang yang diteliti,
penelitian ini adalah penelitian sosial, yaitu penelitian yang secara khusus
meneliti bidang sosial seperti ekonomi, pendidikan, hukum dan sebagainya,
(Hasan, 2016). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh
subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Sugiyono, 2016), karena
dalam penelitian ini akan melihat
implementasi dalam pelaksanaan
kebijakan Adiwiyata dalam
upaya mewujudkan pendidikan lingkungan
hijau pada jenjang Sekolah Menengah Atas
(SMA) di Kabupaten Nganjuk. Penelitian
ini berusaha mendeskripsikan atau melukiskan secara terperinci atau mendalam
upaya apa saja yang telah dilakukan
oleh pihak sekolah,
faktor pendukung apa
saja yang menyebabkan berjalannya
program Adiwiyata di sekolah,
kendala-kendala apa saja
yang ditemui dalam
rangka implementasinya, serta menemukan bentuk solusi bagi
keberhasilan program Adiwiyata di sekolah di Kabupaten Nganjuk.
Penelitian ini
mengambil lokasi di Kabupaten Nganjuk dengan melihat
implementasi kebijakan Adiwiyata yang
ada pada SMA Negeri 1 Tanjunganom. Penentuan lokasi penelitian
ini dimaksudkan untuk lebih mempersempit ruang lingkup dalam pembahasan
sekaligus untuk mempertajam fenomena sosial yang ingin dikaji sesuai
permasalahannya. Teknik pengambilan
data dilakukan dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Dalam wawancara penelitian melibatkan kepala sekolah, guru, staf karyawan, dan
peserta didik. Dokumentasi dilakukan dengan menganalisis dokumen-dokumen yang
ada di sekolah tersebut, seperti piagam penghargaan, foto-foto kegiatan, dan
sebagainya.
Teknik analisis data yang
digunakan adalah model analisis data Miles, Huberman, dan Saldana (2014) yang
meliputi proses kondensasi data, display
data (penyajian data), dan conclusion
(penarikan kesimpulan). Kondensasi data berarti melakukan penggabungan dan
penguatan data. Selanjutnya setelah data dikondensasikan, data disajikan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, foto, dan sejenisnya. Kemudian dilakukan
penarikan kesimpulan dan verifikasi hasil penelitian.
Uji kesahihan atau keabsahan
data yang digunakan meliputi uji kredibilitas (melalui triangulasi sumber,
diskusi teman sejawat, dan teknik pengumpulan data), uji transferability (melalui penyusunan hasil penelitian dengan rinci,
jelas, dan sistematis), uji dependability
(melalui pemeriksaan keseluruhan proses penelitian), serta uji confirmability (melalui publikasi hasil
penelitian).
D.
Hasil
dan Pembahasan
Hasil penelitian yang dipaparkan
merupakan hasil dari analisis dan validasi serta sudah merupakan hasil proses
kondensasi dari sekolah yang menjadi objek penelitian. Hasil penelitian terbagi
atas dua bagian. Bagian pertama terkait kebijakan Adiwiyata yang ada pada objek
penelitian ini, sedangkan bagian kedua terkait implementasi kebijakan Adiwiyata
di sekolah tersebut. Kedua bagian itu akan dijelaskan sebagai berikut.
1.
Kebijakan
Adiwiata di SMA Negeri 1 Tanjunganom
Pelaksanaan untuk pewujudan Sekolah Adiwiyata,
SMA Negeri 1 Tanjunganom memiliki Motto, Visi dan Misi sebagai berikut:
Motto: Bersih,
Indah, Hijau Lingkunganku, Nyaman Belajarku, dan Sehat Jiwa Ragaku.
Visi: Beriman
dan Bertaqwa, berkepribadian luhur, berprestasi, terampil, serta berwawasan
lingkungan.
Misi:
a.
Menumbuhkan pemahaman,
penghargaan, penghayatan, dan pengamatan terhadap agama yang dianutnya.
b.
Menciptakan siswa yang
berperilaku santun, rendah hati, dan berkepribadian luhur.
c.
Meningkatkan profesionalitas guru
sehingga mampu menciptakan proses pembelajaran yang bermutu.
d.
Membantu mengembangkan potensi
siswa sehingga menghasilkan siswa yang berprestasi.
e.
Mencetak siswa yang terampil
menggunakan TIK.
f.
Menciptakan lingkungan yang
bersih, sehat, indah, dan nyaman.
g.
Terwujudnya budaya peduli dan
cinta lingkungan alam.
h.
Terciptanya warga sekolah dan
peserta didik yang membuang sampah pada tempatnya.
i.
Terciptanya gerakan penghijauan
di sekolah maupun di lingkungan sekitar.
j.
Terwujudnya pengolahan sampah
daun menjadi kompos dan bahan yang berguna bagi kebutuhan warga sekolah maupun
warga masyarakat.
k.
Terciptanya lingkungan yang bebas
dari pencemaran udara, tanah, dan air.
l.
Terwujudnya pelaksanaan
pengelolaan, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup.
Berdasar
pada visi dan misi sekolah, yaitu Beriman dan Bertakwa, berkepribadian luhur,
berprestasi, terampil, serta berwawasan lingkungan sekolah berharap siswa-siswa
SMA Negeri 1 Tanjunganom tidak hanya memiliki prestasi secara akademik saja,
namun juga menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berkepribadian luhur,
serta berwawasan lingkungan dengan menunjukkan kepeduliannya terrhadap
lingkungan sekitar baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitarnya.
SMA
Negeri 1 Tanjunganom juga senantiasa memperingati hari-hari peringatan
lingkungan, di antaranya: Hari Lahan Bersih Se-Dunia (2 Februari), Hari Peduli
Sampah (21 Februari), Hari Kehutanan Sedunia (20 Maret), Hari Air Sedunia (22
Maret), Hari Bumi (22 April), dan lain sebagainya. Dalam rangka memperingati
hari peringatan lingkungan, SMA Negeri 1 Tanjunganom memperingati dengan
kegiatan Senin Bersih, Apotek Sehat, dan lain sebagainya meski itu tidak hanya
dilakukan pada hari-hari tertentu itu saja. Siswa juga dibiasakan untuk
memperhatikan kebersihan, menjaga sikap anak ke lingkungan, membiasakan anak
untuk berperilaku sopan santun, jika masuk di lingkungan sekolah mesin motor
harus dimatikan, dan tidak diperkenankan merokok di area sekolah.
SMA
Negeri 1 Tanjunganom juga bekerjsama dengan berbagai pihak yang terkait. Antara
lain Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Warga Sekitar, dan mitra kerja
yang lain. Tidak lupa sekolah juga bekerja sama dengan seluruh warga SMA Negeri
1 Tanjunganom.
SMA
Negeri 1 Tanjunganom juga telah mengikuti beberapa perlombaan Lingkungan Hidup.
Berikut prestasi-prestasi yang telah berhasil didapatkan SMA Negeri Tanjunganom: Juara 1 Lomba Adiwiyata tingkat
Kabupaten, Juara 2 Lomba Adiwiyata tingakat Provinsi, Juara 3 Lomba Adiwiyata
tingkat Nasional, Juara harapan 1 Lomba Adiwiyata Mandiri, dan Juara 1 Lomba
Lingkungan Sehat.
Menurut
Pak Darminto, narasumber yang peneliti wawancarai, salah satu syarat untuk
menuju sekolah Adiwiyata Mandiri adalah SMA Negeri 1 Tanjunganom harus memiliki
sekolah Imbas, dan harus mengimbaskan ke 10 sekolah tersebut agar dapat
mengikuti seleksi sekolah Adiwiyata secara bertahap, mulai Adiwiyata tingkat
Kota, Adiwiyata tingkat Provinsi, dan Adiwiyata Nasional. 10 sekolah timbas
tersebut adalah SDN Tanjunganom 1, SMPN 1 Nganjuk, MAN Nglawak Kertososno, SMAN
2 Ngetos, SMAN 3 Ngetos, SMAN 1 Loceret, SMAN 1 Gondang, SMKN 1 Nganjuk, SMKN 1
Bagor, dan SMKN 2 Bagor.
2.
Implementasi
Kebijakan Adiwiyata di SMAN 1 Tanjunganom
Menurut
teori George C. Edward III, Implementasi
kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yakni komunikasi, sumberdaya,
disposisi, dan struktur birokrasi. Keempat variabel tersebut juga saling
berhubungan satu sama lain (Subarsono, 2005) akan diperinci sebagai berikut.
a.
Komunikasi
Keberhasilan
suatu implementasi kebijakan dapat ditentukan dari seberapa besar informasi
yang dapat disalurkan pembuat kebijakan terhadap pelaksana kebijakan. Menurut
Edwards (1980) informasi kebijakan pendidikan perlu disampaikan kepada pelaku
kebijakan agar pelaku kebijakan dapat mengetahui dan memahami apa yang menjadi
isi, dan arah kebijakan, sehingga tujuan dan sasaran dapat dicapai sesuai
dengan yang diharapkan secara jelas dan konsisten. Komunikasi mencangkup tiga
hal, yaitu tranmisi (penyampaian), kejelasan, dan konsistensi.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa SMAN 1 Tanjungnaom telah mengomunikasikan kegiatan
dengan baik dan efektif, hal ini terlihat dari bagaimana proses penyampaian
informasi melalui sosialisasi, rapat guru, upacara hari Senin, melalui KBM, dan
peran mading. Informasi yang disampaikan juga jelas dan konsisten. Hal-hal yang
disampaikan pun beragam, mulai dari himbauan, peraturan sekolah yang baru yang
mendukung kebijakan Adiwiyata, teguran, pergantian pokja, prestasi-prestasi
sekolah, dan hal-hal yang menyangkut kebijakan Adiwiyata lainnya. Dalam hal ini
peran mading dan poster sangatlah dominan. Karena, warga sekolah terutama para
siswa seringkali lupa akan apa yang telah disosialisasikan guru dalam upacara
hari Senin maupun dalam KBM. Jadi, dibuatlah tulisan-tulisan yang berisi
peraturan-peraturan baru dan himbauan yang kemudian ditempelkan di
mading-mading dan dicetak dalam poster-poster yang dapat ditemui di setiap
sudut sekolah, dengan harapan agar warga sekolah dapat membaca dan
menerapkannya di manapun mereka berada (di lingkungan sekolah) dengan baik.
Sekolah
juga mengimbaskan komponen-komponen dan program-program kebijakan Adiwiyata kepada
10 sekolah imbas yang telah disebutkan tadi secara jelas dan kontinu. Hal-hal
yang diimbaskan meliputi komponen-komponen kebijakan RKAS, visi, misi, dan
tujuan sekolah yang terkait dengan struktur kurikulum, pengembangan kurikulum
terutama pembelajaran yang mengintegrasikan lingkungan hidup yang terkait dengan tenaga pendidik, kegiatan
lingkungan yang berbasis partisipatif, kegiatan kemitraan dengan lingkungan
sekitar masyarakat dan lain sebagainya.
Hal
ini sesuai dengan pernyataan Agustino
(2006) komunikasi merupakan salah-satu variabel penting yang mempengaruhi implementasi
kebijakan publik. Komunikasi sangat menentukan keberhasilan pencapaian tujuan
dari implementasi kebijakan publik.
b.
Sumber Daya
Adanya
sumber daya yang memadai juga sangat berpengaruh terhadap sukses tidaknya suatu
pengimplementasian kebijakan, karena tanpa adanya sumber daya maka apa yang
telah direncanakan tidak akan sesuai dengan apa yang akhirnya diterapkan.
Menurut Edward III sumber daya (resources) yang dimaksud dalam implementasi kebijakan adalah
pelaksana kebijakan, meliputi kesiapan sumberdaya, baik dalam segi kuantitas
maupun kualitas, ketersediaan informasi, dan tersedianya sarana prasarana
penunjang terlaksananya kebijakan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya
di SMA Negeri 1 Tanjunganom telah terpenuhi, baik dari segi finansial,
sarana prasarana, serta media informasi. Dari segi finansial, SMAN 1
Tanjunganom menggunakan dana yang ada, sehingga tidak ditemukan masalah dari
segi dana. Adapun sumber dana untuk pelaksanaan kebijakan ini, ada yang berasal
dari pemerintah tentunya, dari warga sekitar yang juga peduli lingkungan, dari
wali murid yang antusias, dan tidak lupa dari para guru dan staf karyawan juga.
Semua dana dari berbagai pihak tersebut dikelola dengan baik oleh sekolah,
sehingga sekolah tidak mengalami kekurangan dana dalam pengimplementasian
kebijakan ini.
Sarana
prasarana di SMAN 1 Tanjunganom ini pun juga memadai. Mulai dari komposter, wash tafle, biopori, selang air, gembor air, (penyiram tanaman), gunting rumput manual,
mesin pemotong rumput, sekop untuk menanam pohon, kebun yang luas yang
digunakan untuk menanam tanaman-tanaman obat seperti kunyit, jahe, kencur,
temulawak, yang tumbuh dengan baik sehingga dapat dijual dan dananya bisa
dipakai untuk menambah sumber daya finansial serta dapat dikonsumsi oleh semua
warga sekolah, green house, cangkul,
kolam ikan, pot tanaman, berbagai alat kebersihan (sapu, kemoceng, alat pel,
pembersih kaca, sabun, semprotan, sikat wc, timba, dll.), tempat sampah yang
terdiri dari sampah organik dan anorganik, sekolah juga menyediakan terompah
yang digunakan untuk ke kamar mandi agar tidak terlalu kotor.
Selain
sarana prasarana yang memadai, SMA Negeri 1 Tanjunganom juga memiliki media
informasi yang memadai. Media informasi di sekolah ini meliputi majalah dinding
(mading), buletin sekolah yang disusun oleh siswa SMAN 1 Tanjunganom sendiri
yang diberi nama “Justice”,
poster-poster yang tertempel di dinding-dinding sekolah yang menginformasikan
setiap kegiatan sekolah dan kebijakan sekolah, serta sosial media (facebook, blog, whatsapp, instagram)
yang terus dipantau dalam setiap penyebaran informanya.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Edward III dalam Juliartha (2009), sumber daya
adalah faktor penting untuk implementasi kebijakan agar efektif. Tanpa sumber
daya, kebijakan hanya tinggal di kertas dan menjadi dokumen saja.
c.
Disposisi (kecenderungan)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kecenderungan dan sikap para pelaku dalam implementasi Kebijakan Adiwiyata di SMA Negeri 1 Tanjunganom dapat dilihat
dari bagaiamana pemahaman warga sekolah terhadap kebijakan Adiwiyata. Dari
beberapa warga sekolah yang peneliti wawancarai, mereka dapat menjelaskan
kepada peneliti bagaimana Kebijakan Adiwiyata itu diaksanakan, mereka dapat
menjelaskan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di Sekolah Adiwiyata,
seperti membuang sampah sembarangan, merokok, boros energi, dan lain-lain.
Mereka juga dapat menjelaskan visi dan misi sekolah yang berkaitan dengan
Adiwiyata dengan baik, mereka juga mengetahui apa saja komponen-komponen
Adiwiyata, prinsip-prinsipnya pun mereka juga memahaminya. Dalam pengimplementasian Kebijakan
Adiwiyata, respon yang positif dari pelaku kebijakan juga sangat diperlukan.
Respon dari pelaku kebijakan dalam sekolah ini terlihat dari bagaimana mereka
menunjukkan kepahaman mereka terhadap kebijakan ini dengan melaksanakan apa
yang mereka katakan dan mereka pahami, seperti mereka membuang sampah di
tempatnya, tidak merokok di lingkungan sekolah, mematikan kendaraan bermotor
apabila sudah masuk area sekolah, hemat energi dengan mematikan lampu apabila
sudah tidak diperlukan, mematikan keran air apabila bak mandi sudah penuh,
mengadakan kantin sehat yang jajanan di dalamnya terhindar dari 5P (pemanis,
perasa, pengenyal, pewarna, dan penyedap), mereka juga membuat kebijakan
sekolah yang tidak mengizinkan penjual di kantin membungkus makanannya dengan
bahan plastik. Di sekolah ini juga ditemukan adanya kebun apotek hidup di
halaman belakang sekolah yang merupakan hasil dari kerja keras semua anggota
sekolah. Mereka juga membiasakan budaya 5S (Senyum, Sopan, Santun, Sapa, Salam)
yang mencerminkan bagaimana karakter warga sekolahnya.
Setelah menunjukkan respon yang baik,
pelaku Kebijakan Adiwiyata juga harus menunjukkan komitmennya dalam menjalani
semua rangkaian kegiatan yang peduli lingkungan. Di SMAN 1 Tanjunganom,
komitmen pelakunya terlihat dari bagaimana mereka menjalani setiap program
Adiwiyata dengan penuh tanggungjawab, mereka tidak melaksanakan semua kegiatan
karena takut akan mendapat sanksi, namun mereka lakukan dengan sepenuh hati dan
tanpa paksaan.
Dalam pengimplementasian Kebijakan
Adiwiyata di SMAN 1 Tanjunganom, keteladanan warga sekolah juga sangat
terlihat. Keteladanan ini tidak hanya terlihat dari seorang guru saja,
melainkan juga terlihat dari siswa serta semua staf karyawannya. Guru-guru dan
staf karyawan saling memberi contoh yang baik kepada rekan-rekannya. Begitu
juga siswa-siswanya, mereka juga saling mengingatkan dan saling bahu membahu
dalam menjaga kebersihan dan menciptakan budaya cinta lingkungan.
Menurut Edward III (1980), the dispositions or attiudes of
implementation is the third critical factor in our approach to the study of
public policy implementation. Jika ingin efektif, maka para pelaksana tidak
hanya harus memiliki kemampuan untuk melaksanakannya, dimana kualitas dari
suatu kebijakan dipengaruhi oleh ciri-ciri dari aktor pelaksananya.
d.
Struktur
Birokrasi
Jika para pelaksana kebijakan sudah
mengetahui dan memahami arah dan tujuan kebijakan melalui komunikasi yang
efektif, telah terpenuhi sumberdayanya, dan telah menunjukkan sikap, komitmen,
respon, dan tanggungjawabnya, maka yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah
struktur birokrasi.
Struktur birokrasi juga merupakan faktor
penting dalam berhasilnya suatu implementasi kebijakan, karena tanpa adanya
birokrasi yang mendukung maka kebijakan tidak akan berjalan dengan efektif.
Yang paling menonjol dalam struktur birokrasi adalah diperlukan adanya SOP
(Standart Operarional Prosedur), kemudian adanya fragmentasi atau pembagian
tugas dan wewenang yang jelas, serta adanya koordinasi yang dilakukan secara
berkesinambungan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
struktur birokrasi di SMA Negeri 1 Tanjunganom telah berjalan sebagaimana
mestinya. Di SMA Negeri 1 Tanjunganom dapat ditemukan SOP di setiap sudut
sekolah, seperti SOP di kamar mandi yang menerapkan SPS (siram pipis siram), di
atas wash tafle juga ada prosedur
dalam mencuci tangan (nyalakan keran, cuci tangan, pakailah sabun, bilas,
matikan keran, keringkan tangan), ketika membuang sampah juga ada SOP yang unik
yang ditempel di atas tempat sampah seperti buka mulutku, beri makan aku, dan
tutup kembali, saat di kelas pun peneliti juga menemui SOP di setiap sudut
ruangan kelas, seperti di kipas angin (tarik, pakai, tarik lagi), di saklar
lampu (pencet, gunakan, pencet), peneliti juga menemukan SOP di atas tempat
alat kebersihan, SOP yang peneliti temui di sini pun juga unik seperti, ambil
aku, gunakan aku, pulangkan aku. Demikian SOP yang ada di SMA Negeri 1
Tanjunganom yang telah peneliti temui yang mewajibkan seluruh warga sekolah
untuk melaksanakan prosedur tersebut ketika berada di sekolah.
Kemudian adanya pembagian tugas dan wewenang
yang jelas kepada penanggung jawab unit masing-masing. Di sekolah ini dibentuk
pokja-pokja (kelompok kerja) yang
bekerja dalam unit-unit yang telah dibagi, seperti pokja green house yang bertanggung jawab untuk segala kegiatan yang ada
di green house, seperti menjaga tanaman yang ada di dalamnya,
menyirami tanaman, dan lain-lain. Di sekolah ini kita juga dapat menemui kamar
mandi di empat tempat yang masing-masing juga dibentuk pokja yang bertugas
menjaga kebersihan, mengumpulkan sampah yang ada di dalamnya, membersihkan
pasir yang ada di parit, menata terompah yang berserakan, dan hal lain yang
terkait dengan kebersihan kamar mandi. Di sisi lain peneliti juga menemukan
pokja biopori, yang bertugas membersihkan biopori yang tersumbat sampah. Pokja
apotek hidup yang bertugas menanam tanaman obat, merawat, memanen dan
mendistribusikan tanaman tersebut. Pokja komposter, yang bertugas memproses
sampah menjadi pupuk kompos, dan membersihkannnya. Setiap pokja-pokja tadi
terdiri dari tiga sampai empat orang siswa yang bekerja. Jadi kebersihan
lingkungan sekolah tidak hanya dibebankan kepada tukang kebun saja, melainkan
merupakan tanggungjawab semua warga sekolah. Peneliti juga menemukan
taman-taman di depan setiap ruangan kelas yang menjadi tanggungjawab anggota
kelas masing-masing.
Selanjutnya adanya koordinasi yang
berkesinambungan antara penanggungjawab setiap unit dengan anggotanya. Jadi,
setiap ketua dari pokja-pokja tadi harus dapat mengkondisikan dan
mengkoordinasi anggotanya. Hal ini terlihat dari bagaimana ketua masing-masing
dari pokja tersebut membuat jadwal piket bekerja, memantau setiap kinerja
anggotanya, menegur anggotanya yang tidak melaksanakan piket yang bertujuan agar
setiap anggota memiliki tanggungjawab dan dapat bekerja dengan baik. Setiap
pokja juga tidak selalu bekerja di unit itu saja, melainkan dilakukan secara
bergilir setiap bulannya. Misal, bulan Januari kelompok A mendapat bagian pokja
green house, bulan Februari bergilir
menjadi anggota pokja komposter, dan seterusnya.
Hal ini sesuai dengan ungkapan
Edward III (1980), bahwa meskipun sumber-sumber untuk melaksanakan suatu
kebijakan tersedia atau para pelaksana mengetahui apa yang seharusnya dilakukan
dan mempunyai keinginan untuk melaksanakan suatu kebijakan, kemungkinan
kebijakab tersebut tidak dapat terlaksana atau terealisasi karena terapatnya
kelemahan dalam struktur birokrasi.
Untuk
hambatan yang dialami SMA Negeri 1 Tanjunganom selama ini hanya pada masalah
pembiasaan terhadap siswa-siswa untuk mengaplikasikan budaya lingkungan hidup
dan hal tersebut dapat diatasi dengan strategi menggalakkan kegiatan-kegiatan
yang mendukung budaya cinta lingkungan seperti budaya Senin Bersih, memburu
sampah sebelum pelajaran dimulai, membuat lubang resapan, dan lain sebagainya.
Sekolah ini juga akan memberi sanksi kepada siswa yang melanggar peraturan
sekolah yang lain misalnya terlambat berangkat sekolah dengan sanksi kegiatan
yang berwawasan lingkungan pula, seperti mencabut rumput, membersihkan selokan,
dan lain sebagainya.
E. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa
kebijakan Adiwiyata pada SMA Negeri 1 Tanjunganom telah dicantumkan dalam visi
dan misi sekolah yang mengintegrasiakan lingkungan hidup dan budaya cinta
lingkungan. Sekolah ini juga senantiasa memperingati hari-hari peringatan
lingkungan. Sekolah juga bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Antara lain
Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, warga sekitar dan mitra kerja yang
lain. SMA Negeri 1 Tanunganom juga mengimbaskan komponen-komponen dan
prinsip-prinsip kebijakan Adiwiyata kepada 10 sekolah. Hasil penelitian juga membuktikan
bahwa SMAN 1 Tanjunganom telah mengimplementasikan kebijakan Adiwiyata dengan
baik bahkan menjadi Adiwiyata mandiri. Hal ini dipengaruhi oleh komunikasi yang
efektif, sumber daya yang memadai, disposisi atau kecenderungan dalam
pelaksanaan kebijakan, kemudian adanya struktur birokrasi yang mendukung. Hambatan
yang dialami SMA Negeri 1 Tanjunganom adalah mebiasakan budaya cinta lingkungan
kepada siswa-siswa SMA Negeri 1 Tanjunganom yang dapat diatasi dengan
menggalakkan kegiatan-kegiatan yang mendukung budaya Adiwiyata di lingkungan
sekolah dan adanya sanksi yang mendidik.
Rujukan
Agustino, Leo. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung:
Alfabeta. 2006.
Edward III, George C. Implementing Public Policy-Edwards
III. Washington D.C: Congressional Quarterly,
Inc. 1980.
Hasan,
Iqbal. Analisis Data Penelitian dengan Statistik. Jakarta: Bumi Aksara.
2008.
Juliartha, Edward. Model Implementasi Kebijakan Publik.
Jakarta: Trio Rimba Persada. 2009.
Miles, Metthew B, A. Qualitative
Data Analysis, A Methods Sourcebook. Third Edition. United States of
America : Sage Publications, Inc. 2014.
Nurjhani, M dan Widodo, A. Penggunaan
Multimedia Untuk Meningkatkan Penguasaan
Konsep Mahasiswa dalam Perkuliahan “Konsep Dasar IPA”, Prodi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar. FIP: Tidak Diterbitkan. 2009.
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No.2 Tahun 2009 Tentang
Pedoman Pelaksanaan program Adiwiyata Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Sondang, P.Wawasan Lingkungan (Dasar-dasar Pembangunan
Berkelanjutan yang Berwawasan lingkungan). Sidoarjo: Media Ilmu. 1985.
Subarsono, AG. Analisis
Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta. 2016.
Tim Adiwiyata Tingkat
Nasional. Panduan Adiwiyata Sekolah
Peduli dan Berbudaya Lingkungan. Jakarta: 2011.
Tim MKU PLH. Pendidikan Lingkungan Hidup. Semarang:
UNS. 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar